Berita

Berita

Kenaikan Harga Batubara Topang Kinerja TOBA

7 August 2017

Kenaikan Harga Batubara Topang Kinerja TOBA

JAKARTA. PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) bisa mencatatkan kenaikan laba pada semester I 2017. TOBA membukukan laba berjalan US$ 14,6 juta pada semester pertama, naik 57% dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 9,3 juta.

Sementara penjualan Toba Bara turun 8% dari semester I tahun lalu sebesar US$ 139 juta menjadi US$ 127,9 juta. Iwan Sanyoto, Investor Relations TOBA mengatakan, penjualan semester I 2017 memang turun sejalan dengan jumlah produksi yang juga menurun karena curah hujan yang tinggi.

Namun, harga batubara yang baik sejak semester II 2016 membawa TOBA mencatatkan laba. "Laba naik karena purely ASP, harga jual rata-rata, itu naik 26% pada semester I 2017 jika dibandingkan semester I 2016," jelas Iwan ke KONTAN pada Senin (7/8).

Dengan harga yang naik, EBITDA Toba Bara juga meningkat. Pada enam bulan pertama tahun ini, EBITDA Toba Bara naik 29,1% menjadi US$ 28,4 juta dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 22 juta."EBITDA naik, menurun ke bottom line," imbuhnya.

Masih Andalkan Trader

Selain karena harga batubara yang cukup baik sejak separuh kedua tahun lalu, kenaikan laba TOBA juga ditopang oleh strategi penjualan batubara. Iwan bilang, pihaknya telah mengamankan kontrak penjualan semester I 2017 sejak paruh kedua 2016.

Kala itu, harga batubara mulai meningkat sehingga laba Toba bisa terangkat. "Kami sudah secure penjualan di awal. Kami mulai secure penjualan di semester 2 2016. Harga Newcastle di paruh pertama 2016 sekitar US$ 50 per ton, mulai second half mulai naik US$ 60 per ton bahkan US$ 100 per ton," jelasnya.

Lebih lanjut Iwan bilang TOBA masih menjual batubara ke traders. Sepanjang semester I 2017, penjualan trader mencapai 77,4%. Sementara penjualan ke end user sebesar 26,6%.

Iwan memproyeksi penjualan dari end user bisa meningkat di semester II 2017. Dengan begitu penjualan batubara TOBA akan lebih stabil. "Seperti portofolio investasi, kami lakukan diversifikasi penjualan. Ini bukan soal ada yang lebih unggul, namun kalau market bagus atau jelek, ada stabilitas, karena keduanya saling mengisi satu sama lain," imbuhnya.

Tutup
Loading