News

News

11 January 2013

TOBA BARA Patok Belanja Modal US$27 Juta

JAKARTA—PT Toba Bara Sejahtra Tbk menganggarkan belanja modal tahun ini (capital expenditure/capex) sebesar US$27 juta untuk mendukung pengembangan operasional seluruh unit usahanya.

Sekretaris Perusahaan Toba Bara Sejahtra Tbk Perry B. Slangor mengatakan seluruh dana tersebut akan berasal dari kas internal perseroan.

“Kami akan mengoptimalkan sumber dana internal. Belum ada rencana untuk mencari sumber pendanaan baru,” ujarnya kepada Bisnis malam ini, Kamis (10/1/2013).

Perseroan mengoperasikan tambang batu baranya melalui 3 anak usahanya yakni PT Adimitra Baratama Nusantara, PT Trisensa Mineral Utama, dan PT Toba Bumi Energi (TBE).

Selain itu, perseroan juga mempunyai kepemilikan tidak langsung melalui TBE di PT Indomining. Seluruh capex akan digunakan untuk mendukung seluruh unit usaha tersebut.

“Belanja modal sekitar US$27 juta rencananya akan digunakan antara lain untuk membangun jalan angkut PT Trisensa Mineral Utama, perbaikan conveyor di PT Adimitra Baratama Nusantara, serta pembangunan coal processing plant yang baru di PT Indomining,” jelasnya.

Lokasi tambang perseroan seluruhnya berada di Kalimantan Timur. Per 30 September 2012, jumlah estimasi cadangan batu bara terbukti (proven reserves) diketahui sebesar 86 juta ton.

Pada 2012, perseroan berhasil mencapai target produksi yang telah disesuaikan dengan mine plan terakhir, yaitu sekitar 5,5 juta ton. Sedangkan untuk tahun ini, Toba Bara menargetkan produksi batu bara secara konsolidasian sebesar 5,8–6,4 juta ton.

“Rencana target produksi ini menggunakan asumsi harga index Newcastle batu bara sekitar US$90 per ton,” tambah Perry.

Menghadapi harga batu bara yang diperkirakan masih tidak menentu pada tahun ini, perseroan akan tetap fokus untuk meningkatkan profitabilitas serta mengelola cash cost.

Di samping itu, perseroan juga berencana membangun jalan angkut (coal hauling) dari PT Trisensa Mineral Utama ke PT Indomining melalui PT Adimitra Baratama Nusantara.

Perry menegaskan ini dilakukan untuk memaksimalkan penggunaan infrastruktur secara bersama-sama seperti fasilitas pengelolaan (coal processing plant) dan jetty yang sudah dimiliki Indomining atau ABN.

“Jalan angkut ini diharapkan selesai pada awal semester 2 tahun ini dan dapat mengurangi biaya,” ujarnya.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan per 30 September 2012, laba bersih perseroan anjlok 82,2% menjadi US$17 juta, dari periode yang sama tahun sebelumnya US$95,97 juta.

Ada pun total penjualan selama 9 bulan pertama 2012 sebesar US$283,36 juta, turun hampir 20% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya US$352,79 juta.

Sementara itu, total aset tercatat sebesar US$274,77 juta. Total kewajiban (liabilitas) jangka pendek dan panjang US$157,48 juta. Sedangkan, total kas dan setara kas akhir periode sebesar US$39,26 juta.

Pada perdagangan hari ini, Kamis (10/1), harga saham perseroan ditutup di Rp880 per lembar saham, turun 20 poin atau 2,22%. Volume perdagangan hari ini 860.000 lembar saham. Kapitalisasi pasar perseroan saat ini Rp1,77 triliun. (sut)

Close
Loading