News

News

27 May 2017

Laba Anjlok, Toba Bara Hanya Sebar Dividen Rp11,14 Miliar

JakartaCNN Indonesia -- Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA) memutuskan untuk membagikan dividen final sebesar US$838 ribu atau sekitar Rp11,14 miliar (kurs Rp13.295 per dollar AS). 

Head of Investor Relations Iwan Sanyoto menyebutkan, jumlah dividen yang dibagikan perusahaan pertambangan ini setara dengan 30 persen dari laba bersih tahun 2016 sebesar US$2,79 juta atau sekitar Rp37,09 miliar. 

"Pembagian dividen itu sebesar US$838 ribu yang disisihkan sebagai dividen final. Pokoknya 30 persen dari laba bersih tahun 2016 ya," ungkap Iwan, Jumat (26/5).

Namun, manajemen belum menentukan waktu pemberian dividen tersebut. Iwan mengaku, pihaknya masih dalam tahap pembicaraan.

"Sedang dibicarakan tapi segera. Tapi akan menyusul detil-detilnya," kata dia.

Porsi pembagian dividen pada tahun ini memang meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 10 persen dari total laba bersih 2014. Namun, secara nominal, besaran dividen mengalami penurunan. Tahun lalu, Toba membagikan dividen sebesar US$1,13 juta atau sekitar Rp15,02 miliar. 

Ini disebabkan anjloknya laba perseroan pada tahun lalu sebesar 75,41 persen dari US$11,3 juta atau sekitar Rp150 miliar menjadi US$2,79 juta atau sekitar Rp37,09 miliar.

Disisi lain, pada tahun ini, perusahaan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) berkisar antara US$60 juta atau sekitar Rp797,7 miliar hingga US$65 juta atau sekitar Rp864,17 miliar tahun ini. Alokasi belanja modal tersebut jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu sebesar US$9,3 juta atau sekitar Rp123,6 miliar.

Adapun sebagian besar dana itu akan digunakan untuk proyek listrik Toba Bara. "Sisanya untuk mining activity. Jadi mulai tahun ini fokus alokasi capex lebih ke pengembangan proyek listrik," jelas Iwan.

Saat ini, menurut Iwan, pihaknya antara lain masih menyelesaikan kontrak Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) serta proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) untuk proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 2x50 megawatt (MW) (Sulbagut I) di Gorontalo, Sulawesi. Jika keduanya telah selesai dilakukan, maka perusahaan menurut dia, akan mulai melakukan negosiasi dengan beberapa perbankan terkait financial closing. 

"Setelah itu selesai baru konstruksi, di mana EPC itu akan masuk untuk berperan sebaga kontraktor, akan dimulai setelah financial closing dipenuhi," ungkap Iwan

Pihaknya pun menargetkan, proses financial closing tersebut dapat rampung pada semester pertama tahun ini. 

Adapun saat ini, Toba Bara memegang 60 persen saham pada proyek PLTU Sulbagut ini,  20 persen digenggam PT Toba Sejahtera, dan 20 persen sisanya dimiliki Shanghai Electric Power Construction Co. Ltd.

Selain itu, perusahaan pun saat ini tengah mengerjakan pembangunan pada proyek PLTU Kabupaten Minahasa Utara, Sumatera Utara. Pembangunan PLTU tersebut membutuhkan investasi hingga US$210 juta-US$220 juta. 

"Karena dua-duanya (Gorontalo dan Minahasa) sama-sama 2x50 MW, bisa kami kategorikan (sebut) hampir sama nilainya (investasi)," katanya.

Nantinya, menurut dia, pembiayaan kedua proyek tersebut akan menggunakan dana perbankan sekitar 70 persen dan ekuitas perusahaan sebesar 30 persen dari ekuitas perusahaan. Pihaknya pun berharap proses konstruksi kedua proyek ini akan selesai pada 2019 mendatang dan dapat mulai beroperasi pada 2020. 

"Jadi berbarengan," imbuhnya. (agi)

Sumber

Close
Loading