News

News

Ekspansi Toba Bara Fokus di Bisnis Listrik

5 December 2019

Ekspansi Toba Bara Fokus di Bisnis Listrik

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan tambang batubara PT Toba Bara Sejahtra Tbk, merintis jalan diversifikasi bisnis. Perusahaan itu kini ekspansif di bisnis pembangkit listrik sebagai perluasan dari usaha pertambangan batubara.

Emiten bersandi saham TOBA di lantai bursa ini memiliki proyek PLTU Sulbagut-1 di Gorontalo dengan kapasitas 120 MW. Proyek tersebut dikelola oleh anak usaha TOBA, yaitu PT Gorontalo Listrik Perdana. TOBA telah meneken power purchasing agreement (PPA) pada Juli 2016 dan financial close tercapai di Juli 2017.

Melalui anak usahanya, PT Minahasa Cahaya Lestari, TOBA juga menggarap proyek PLTU Sulut-3 di Minahasa, Sulawesi Utara berkapasitas 120 MW. Kontrak PPA untuk PLTU ini sudah terealisasi pada April 2017 lalu dan financial close dilaksanakan pada Januari 2018.

Head of Investor Relations TOBA Iwan Sanyoto menyebutkan, PLTU Sulbagut-1 ditargetkan beroperasi kuartal III-2020, sedangkan target penyelesaian PLTU Sulut-3 pada kuartal II-2021. "Kini, kedua PLTU itu masih dalam tahap konstruksi," ujar dia saat paparan publik, Rabu (4/12).

Di luar dua proyek tersebut, TOBA juga memiliki aset PLTU di Probolinggo, Jawa Timur. Perusahaan ini memiliki 5% saham PT Paiton Energy. Porsi kepemilikan tersebut berasal dari hasil akuisisi 100% saham PT Batu Hitam Perkasa pada Desember 2018. Batu Hitam adalah pemilik 5% saham Paiton Energy.

PLTU Paiton Unit P7/8 dan Unit P3 menggunakan teknologi subcritical dengan total kapasitas 2.045 (MW). Dengan memiliki 5% saham Paiton Energy, kapasitas listrik PLTU Paiton yang menjadi aset TOBA adalah 102,3 MW.

Sektor kelistrikan

Direktur Toba Bara Pandu Patria Sjahrir mengatakan, gencarnya TOBA menggarap proyek PLTU merupakan bagian dari visi perusahaan yang ingin memperbesar porsi pendapatan dari sektor kelistrikan. Saat ini, ia menyatakan, pendapatan Toba Bara dari bisnis pembangkit listrik baru sekitar 25% terhadap total pendapatannya.

Dia menambahkan, ke depan, perusahaan ini mengincar komposisi pendapatan dari batubara dan pembangkit listrik sebesar 50:50. "Bahkan, kalau PLTU sudah beroperasi semua, mayoritas pendapatan kami bisa dari pembangkit listrik," ungkap dia kepada KONTAN, Rabu (4/12).

Dia menjelaskan, pemilihan Gorontalo dan Minahasa sebagai lokasi dua PLTU berdasarkan pertimbangan potensi bisnis di Indonesia timur yang cukup besar. Apalagi pemerintah gencar membangun proyek infrastruktur dan kawasan ekonomi khusus di wilayah tersebut. Program ini dapat mendorong kebutuhan listrik di wilayah tersebut.

Tahun 2019, TOBA mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 170 juta-US$ 180 juta. Dari jumlah itu, TOBA mengucurkan sekitar US$ 120 juta untuk menyokong proyek dua proyek PLTU itu.

Mayoritas anggaran belanja modal berasal dari kas internalnya. "Tahun depan kemungkinan capex akan lebih tinggi lagi. Nanti kami kasih informasi lagi," janji Pandu.

Berdasarkan materi paparan publik TOBA, nilai proyek PLTU Sulbagut-1 mencapai US$ 224 juta. Adapun nilai proyek PLTU Sulut-3 sebesar US$ 209 juta.

Pandu menyatakan, perusahaan ini akan berfokus lebih dahulu pada penyelesaian dua proyek PLTU di Sulawesi. Setelah menuntaskan kedua proyek kelistrikan di Sulawesi, TOBA akan menambah proyek pembangkit listrik di sekitar wilayah operasional perusahaan tersebut. Lokasi yang diincar TOBA masih di kawasan di Indonesia bagian tengah dan timur.

sumber berita dan foto: https://insight.kontan.co.id/news/ekspansi-toba-bara-fokus-di-bisnis-listrik

Close
Loading