News

News

21 December 2016

Toba Bara kejar mimpi 50% kontribusi bisnis setrum

JAKARTA. PT Toba Bara Sejahtra Tbk tak sabar bermetamorfosis. Mereka ingin mencatatkan kontribusi pendapatan sama besar dari bisnis tambang dan listrik. Target terdekat Toba Bara mencecap pendapatan listrik adalah pada tahun 2020.

"Kami ingin listrik itu bakal signifikan, tapi angkanya nanti kami lihat tapi bisa fifty-fifty, kalau tahun 2020 sampai 30% ya, segitu bisa," ungkap Pandu Sjahrir, Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan PT Toba Bara Sejahtra Tbk, Selasa (20/12).

Kehadiran bisnis setrum tak cuma menjanjikan pendapatan tetap. Toba Bara menghitung, kepemilikan pembangkit listrik bisa mendorong konsumsi batubara mereka. Menurutnya, setiap 100 megawatt (MW) pembangkit listrik membutuhkan sekitar 400.000-500.000 ton batubara.

Nah, salah satu ikhtiar Toba Bara merealisasikan bisnis setrum adalah dengan menjadi penyedia listrik swasta alias independent power producer (IPP) untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Sulbagut I di Gorontalo. Nilai investasi PLTU berkapasitas 2x50 MW tersebut US$ 180 juta–US$ 220 juta.

Sementara target pembangunan selesai tahun 2019. Adapun saat ini Toba Bara masih dalam tahap menyelesaikan pemenuhan pembiayaan atawa financial closing. Perusahaan berkode TOBA di Bursa Efek Indonesia itu menargetkan financial closing rampung pada awal kuartal III 2017.

Toba Bara juga masih harus menuntaskan pembebasan lahan proyek seluas 60 hektare (ha). Tak lupa, mereka juga mengurus analisis dampak lingkungan (Amdal). Sembari menggarap PLTU Sulbagut I, Toba Bara mengincar satu proyek listrik lain di Sulawesi.

Pasca lolos tahap pra kualifikasi, mereka tinggal menunggu kabar dari PLN sebagai pemilik tender. Kalau terpilih sebagai pemenang tender, tahun depan Toba Bara akan menggarap dua proyek listrik sekaligus.

"Kami lihatlah, karena tergantung dari pihak PLN juga," tutur Pandu.

Dengan asumsi bakal ada dua proyek listrik tahun depan, Toba Bara siap mengucurkan dana belanja modal alias capital expenditure (capex) lebih besar pada tahun 2017. Hanya saja, mereka belum bisa membeberkan kisarannya.

Sebagai gambaran, sepanjang tahun 2016 Toba Bara menyediakan capex US$ 12 juta. Penyerapan capex mereka hingga kini sudah 95%. Sementara pada bisnis tambang batubara, Toba Bara mematok target stagnan untuk.

Perusahaan itu mematok target volume produksi 6 juta ton batubara tahun depan. Acuan Toba Bara adalah proyeksi rata-rata industri. "Ada yang memang menaikkan tapi beberapa saja perusahaan terbuka, paling tiga sampai empat nama, sisanya saya rasa flat," kata Pandu.

Selain tak mematok target pertumbuhan volume produksi, tahun depan Toba Bara juga tak mau ngoyo mengakuisisi tambang baru. Apalagi menurut ramalan mereka, tahun depan harga batubara bakal mahal. Dus, hal tersebut bisa mempengaruhi nilai akuisisi tambang yang mungkin terjadi.

Sumber

Close
Loading